Rabu, 01 Mei 2013

Manusia dan Cinta Kasih

Manusia dan cinta kasih, Manusia dan keindahan, Manusia dan penderitaan

Pokok Bahasan dan TIU 
 4. manusia dan cinta kasih
 4.1. Pengertian cinta dan kasih 
§  Pengertian cinta dan kasih 
menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
·          3 unsur cinta
Keterikatan : Adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dia.
Keintiman : Adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi.
Kemesraan : Adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang dan seterusnya.
·         3 tingkatan cinta
Seorang ulama, Abdullah Nasih Ulwan membagi cinta menjadi tiga tingkatan
1. Mahabbah Ula (Cinta yang Utama)
    Ini adalah cinta kepada Allah SWT dan Rosulullah SAW.
2. Mahabbah Al Wustho' ( Cinta yang menengah)
    Ini adalah cinta kepada Ibu, Bapak, Istri, Anak-anak, Perniagaan, Harta, dan sejenisnya didunia.
    Dansemua cinta  ini karena kita cinta kepada Allah SWT.
3. Mahabbah Al Adna (Cinta rendahan)
    Ini adalah Mahabbah Al Wustho yang menggeser Mahabbah Ula.
·         Gambar 3 unsur segitiga cinta
 
4.2. Cinta menurut ajaran agama
·         Bentuk cinta
Cinta kepada thagut : Syetan atau sesuatu yang disembah selain Tuhan.
2. Cinta berdasarkan hawa nafsu.
3. Cinta yang lebih mengutamakan kecintaan pada orang tua, anak, istri, perniagaan dan tempat tinggal.
·        Ayat-ayat al-quran tentang cinta 
      1. Cinta Diri
Cinta Diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri.
Al-Qur’an telah mengungkpkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari diri dari segala sesuatu yang membahayakan kesalahan dirinya, melalui ucapan Nabi Muhammd SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hl gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan. (QS, al-"Adiyat, 100:8)
2. Cinta Kepada Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Allah ketika member isyarat tentang kecintaan manusia pada dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan usahanya yang terus menurus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan sebagian karunia yang diperolehnya, setelah itu Allah langsung memberi pujian kepada orang-orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan diri dari gejala-gejala itu. 
3.  Cinta Seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama ntara suami dan istri. Ia merupakan factor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga :
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. (QS, Ar-Rum, 30:21)
4. Cinta Kebapakan
Cinta kebapakan dalam Al-Qur’an diisyaratkan dalam kasih nabi Nuh as. Betapa cintanya ia kepada anaknya, tampak jelas ketika ia memanggilnya dengan penuh rasa cinta. Kasih sayang, dan belas kasihan, untuk naik ke perahu agar tidak tenggelam ditelan ombak :
“…Dan nuh memanggil anaknya – sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil – : “Hai…anakku, naiklah (kekapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama-sama orang-orang yang kafir”.(QS, Yusuf, 12:84)
5. Cinta Kepada Rasul
Cinta kepad rasul, yang ditulis Allah sebagai rahmh bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkt ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya. 
4.3. Kasih sayang
·         Pengertian kasih sayang dan contohnya 
      Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S.Poerwardarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduaanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
Contoh kasih sayang
1.     Cinta kasih antar orang tua dan anak. Orang tua yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, berarti mempunyai rasa cinta kasih terhadap anak. Mereka selalu mengharapkan agar anaknya menjadi orang baik dan berguna di kemudian hari.
2.    Cinta kasih antara pria dan wanita. Seseorang pria menaruh perhatian terhadap seorang gadis dengan perilaku baik, lemah lembut, sopan, apalagi memberikan seuntaian mawar merah, berarti ia menaruh cinta kasih terhadap gadis itu.
3.    Cinta kasih antara manusia. Apabila seorang sahabat berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat kepadanya berarti bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sakit itu.
4.    Cinta kasih antara manusia dan Tuhan. Apabila seorang taat beribadah, menurut perintah tuhan, dan menjauhi larangan-Nya, orang itu mempunyai cinta kasih kepada tuhan penciptanya.
5.    Cinta kasih manusia terhadap lingkungan. Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena atau dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.
·        Macam-macam cinta kasih dari orang tua
1. Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif.
2. Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif.
3. Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif.
4. Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif. 
4.4. Kemesraan
·        Pengertian kemesraan
Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
·        Puisi kemesraan
KEMESRAAN

Janganlah kau berlalu.
Tinggalkan aku sepi sendiri.
Biarkan aku dama bersamanya.
Merasakan cinta sesungguhnya.

Kemesraan ...
Datanglah malam ini.
Kembali melepas rindu.
Satukan asaku asanya.
Bercerita tentang cinta.

Kemesraan ...
kutulis puisi ini.
Kupersembahkan padamu.
Walau tak indah syair puisiku.
Inilah gubahan hatiku mengingatkan padamu.
Jangan lupakan aku.

Akankah tercipta kembali.
Kemesraan kita ...
Kebersamaan kita ...
Hari seindah dulu ...
Tiada nama seharum namamu kau adalah tahta hatiku.
 
4.5. Pemujaan
·        Pengertian pemujaan
Salah satu mannifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya 
4.6. Belas kasihan
·        Pengertian belas kasihan
Belas kasih (composian) adalah kebajikan satu di mana kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi prinsi-prinsip dalam filsafat, masyarakat, dan kepribadian. 
4.7. Cinta kasih erotis
·         Pengertian cinta kasih erotis 
      Cinta erotis adalah kehausan akan penyatuan sempurna akan penyatuan dengan yang lainnya. Keinginan untuk bersatu dan berteman dengan lawan jenis, untuk menghilangkan sepi atau untuk menenangkan suatu naluri seksual. Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Namun apabila penyatuan fisis tadi tidak dilandasi oleh cinta kasih maka hanya akan membawa pada penyatuan yang bersifat pesta pora dan sementara saja. 
      Contoh kasus Cinta dan kasih 
      paling menonjol adalah cinta seorang ibu kepada anaknya. Seorang ibu akan selalu menyayangi anaknya sampai hayat menjemputnya. Seburuk- buruk tingkah laku anaknya, ibu itu akan selalu menyayanginya, Mencintainya dan Mengasuh serta merawatnya ketika sedang sakit. Itulah cinta seorang ibu sepenuh hatinya dan segenap jiwa raganya.
     5.     Manusia dan keindahan
     5.1. Keindahan
·      Pengertian keindahan 
     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang,
     cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi
     sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau
     memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk
     kesempurnaannya.
     Perbedaan antara keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah banda tertantu
     yang indah 
     Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya, yang
     baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk dan dengan bentuk itu keindahan dapat
     berkomunikasi. Perbedaan ini dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah beauty (keindahan)
     dan the  beautiful (benda atau hal yang indah).
·      Keindahan seluas-luasnya 
     Menurut luasnya pengertian keindahan dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Keindahan dalam arti luas.
Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan.bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
Jadi pengertian yang seluas-Iuasnya meliputi :
 keindahan seni
 keindahan alam
keindahan moral
keindahan intelektual.
2. Keindahan dalam arti estetik murni.
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan
Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengarnat.
·         Nilai etetik
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai sepertihalnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segaa sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Nilai adalah suatu relaitas psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapa pada sesuatu benda sampai terbukti ketakbenarannya.
·         Nilai ekstrinsik dan nilai instrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya ( instrumental/contributory) yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. 
Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atu sebagai sesuatu tujuan, atau demi kepentingan benda itu sendiri.
·         Pengertian tentang kontemplasi dan ekstansi
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. 
5.2. Renungan
·        Teori-teori dalam renungan
1. Teori Pengungkapan
Dalil teori ini ialah bahwa “arts is an expresition of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia) Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan karya seni. 
Dengan demikian pengungkapan itu berwujud pelbagai gambaran angan-angan seperti misalnya images warna, garis dan kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar.
2. Teori Metafisik
Teori seni yang bercotak metafisik merupakan salah satu contoh teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karyakaryanya untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Paa taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita duniawi.
3. Teori Psikologis
 Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni tiu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. 
5.3.         Keserasian
·         Teori-teori keserasian
Keserasian adalah perpaduan, pertentangan, ukuran, seimbang. Terdapat 2 teori keserasian:
Teori subjektif: Ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda.
Teori objektif: Cirri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. 
Contoh kasus manusia dan keindahan 
Kami akan mengambil sebuah kasus,yang tidak asing lagi di telinga para Ibu-Ibu rumah tangga atau kantoran. Kasus Sheila Marcia dan seorang anak tanpa status ayah. Wanita ini pun tidak jarang menjadi bahan obrolan dan liputan para pencari berita .Sheila Marcia kembali masuk bui karena terkait obat-obatan terlarang .Dan digegerkan dengan seorang bayi yang masih di dalam kandungan ketika di bui . 
 6. Manusia dan penderitaan
6.1. Pengertian penderitaan
·         Pengertian penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.
Contoh penderitaan
Penyakit seorang anak berusia 2 tahun mengalami kanker otak sudah mengalami koma 2bulan yang tak kunjung sadar , orang tua dari anak tersebut hanya berusaha semaksimal mungkin dan  berdoa kepada allah swt diberi kesembuhan atas penyakit yang diderita anaknya. 
6.2. Siksaan
·         Pengertian siksaan
Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan.
Tiga Siksaan Bersifat Psikis
 Kebimbangan, siksaan ini terjadi ketika manusia sulit untuk menentukan pilihan yang mana akan meraka ambil dan mereka tidak ambil. Situasi ini sangat membuat psikis manusia tidak stabil dan butuh pertimbangan yang amat sangat sulit.
 Kesepian, merupakan perasaan sepi yang amat sangat tidak diinginkan oleh setiap manusia. Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang bersosial ,hidup bersama dan tidak hidup seorang diri.Faktor ini dapat mengakibatkan depresi kejiwaan yang berat dan merupakan siksaan paling mendalam yang menimpa rohani manusia
 Ketakutan, adalah suatu reaksi psikis emosional terhadap sesuatu yang ditakuti oleh manusia.
·         Pengertian phobia
Secara umum, phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti itu. Bedanya sama rasa takut biasa adalah, hal yang ditakuti sebenarnya nggak menyeramkan untuk sebagain besar orang. Phobia terjadi karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi kebanyakan psikolog setuju, phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis.
Penyebab seseorang merasa takut
Phobia terjadi karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi kebanyakan psikolog setuju, phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis. 
6.3. Kekalutan mental
·         Pengertian kekalutan
Kekalutan Mental merupakan penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.
Gejala-gejala kekalutan
Jasmaninya sering merasakan pusing-pusing, sesak napas, demam dan nyeri pada lambung.
Jiwanya sering menunjukkan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, dan mudah marah.
Proses – proses yang diambil oleh sesorang dalam menghadapii kekalutan mental, sehingga mendorongnya kearah :
Positif, bila trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk mengambil hikmah dari kesulitan yang dihadapinya, setelah mencari jalan keluar maksimal, tetapi belum mendapatkannya tetapi dikembalikan kepada sang pencipta yaitu 4JJ1 SWT, dan bertekad untuk tidak terulang kembali dilain waktu.
Negatif, bila trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang dicita-citakan.
·      Tahap-tahap gangguan kejiwaan  
  a)     Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita bais jasmani  maupun rokhani 
b)    Usaha mempertahankan diri dengan cara negative 
c)     Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan
·      Sebab-sebab timbulnya kekalutan
a)     Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
b)    Terjadinya konflik sosial budaya
c)     Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial
          6.4. Penderitaan dan perjuangan
·      Hubungan antara penderita dan perjuangan
Berbagai pengaruh dari penderitaan dapat dikategorikan bersifat positif dan negatif tergantung dari bagaimana manusia menghadapi kenyataan ini, apabila menyikapi secara positif dengan mudah ia bisa menepis pegaruh penderitaan itu dengan contoh motto yang telah saya berikan bahwa “Hidup adalah Berjuang karena Hidup adalah Perjuangan”. jadi dia bisa kuat menghadapi penderitaan dan selalu berusaha kuat untuk menghadapi penderitaan.
            6.5. Penderitaan, media masa dan seniman
·        Hubungan penderitaan,media masa dan seniman 
      Berita mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran koran, layar TV, radio,
      internet, dengan maksud supaya semua orang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh
      penderitaan manusia. Dengan demikian dapat menggugah hati manusia untuk berbuat sesuatu.
     Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunkiasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni. Sebagai contoh bagaimana penderitaan anak bernama Arie Hangara yang mati akibat siksaan orang tuanya sendiri yang difilmkan dengan judul yang sama.
           6.6. Penderitaan dan sebab-sebabnya
·      Sebab timbulnya penderitaan
Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia.
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut basib buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki manusia supaya menjadi baik. Dengan kata lain, manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya. Perbedaan nasib buruk dan takdir, Tuhan yang menentukan sedangkan nasib buruk itu manusia penyebabnya.         Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab TuhanPenderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal, dan optimis dapat berupa usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.
           6.7. Pengaruh penderitaan
·      Pengaruh penderitaan terhadap seseorang
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia atau tidak bahagia. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya sebagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah.
Apabila sikap negative dan sikap positif ini dikomunikasikan oleh para seniman kepada para pembaca, penonton, maka para pembaca, para penonton akan memberikan penilaiannya. Penilaiannyaitu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Keadaan yang sudah tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai. Keadaan yang berupa hambatan harus disingkirkan. Penderitaan secara Fisik yaitu penderitaan yang terlihat pada fisik.
 Contoh kasus penderitaan 
  Penderitaan yang dialami oleh para TKW indonesia yang bekerja diluar negeri. banyak sekali  kita    liat siksaan demi siksaan yang dialami TKW indonesia yang menurut logika itu sangat tidak manusiawi dan wajar.
Narasumber
http://mohammadmahareza.blogspot.com/2012/05/ibd-6-manusia-dan-penderitaan.html

CONTOH CINTA DALAM AJARAN AGAMA

CONTOH KASIH SAYANG TERHADAP ORANG TUA

Kesusastraan Indonesia

Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.1
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
KETRAMPILAN LITERASI DALAM KONTEKS WACANA
BAHASA INDONESIA DALAM RANAH MENULIS AKADEMIK
Tri Wahyu R. N
Fakultas Sastra
Universitas Gunadarma
Jl. Akses UI- Kelapa Dua Cimanggis, Depok
Telp. (021) 8727541 ext (312)
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan literasi mahasiswa dalam menulis
ragam ilmiah. Seperti halnya, tujuan pendidikan bahasa adalah memberikan
pengalaman kepada mahasiswa dengan pembelajaran terpadu melalui lingkungan mahir
literasi (literate environment) yang diasumsikan dapat meningkatkan pembelajaran
karena mahasiswa menggunakan proses-proses yang saling berkaitan antara membaca,
menulis, berbicara, dan mendengarkan untuk komunikasi alamiah senyatanya (authentic
communication) (Salinger, 2001). Ketrampilan literasi yang dituntut untuk mahasiswa
adalah mencakup kemahiran berkomunikasi dalam situasi akademik. Data diperoleh
melalui tes dengan sampel mahasiswa sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pengunaan unsur-unsur bahasa menyimpang dari kaidah-kaidah ragam bahasa
ilmiah, karena kurang nalar/relevan, kurang jelas/ekplisit, dan kurang lugas/padat.
Penyimpangan kenalaran terjadi pada penataan paragraf (62,85%), kalimat (51,3%),
dan kata (51,6%). Penyimpangan kejelasan terjadi pada penataan kalimat (37,9%),
pemilihan kata (28,3%), penataan paragraf (10,3%), dan penataan kalimat (6%). Secara
keseluruhan kelemahan utama terletak pada penataan kalimat dan paragraf.
Kata kunci: literasi, wacana, bahasa Indonesia, ranah akademik
PENDAHULUAN
Mahasiswa sebagai individu yang berada dalam lingkungan akademik, dituntut
kualitasnya, tidak hanya kemampuan olah pikir, tetapi juga pengungkapan pikiran-pikiran
rasional dengan bahasa yang tepat, baik dan cermat. Dalam menuntut ilmu, mahasiswa
setiap hari berkecimpung dalam kegiatan ilmiah, baik sebagai penerima ilmu
pengetahuan maupun sebagai penyebar ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan inilah
dituntut penguasaan bahasa Indonesia yang baik sehingga dapat menggunakan bahasa
tersebut dengan baik, tepat, dan cermat. Di samping itu, sesuai dengan fungsi
pemakaiannya, dituntut pula penggunaan bahasa Indonesia ilmiah (selanjutnya disebut
BII). Kegiatan ini dapat dilihat dalam bentuk perkuliahan, diskusi ilmiah, atau dalam
pembuatan karya ilmiah. Ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan ini tentu ragam
BII. Mahasiswa dihadapkan pada berbagai ragam penggunaan bahasa, yang akhirnya
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.2
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
mempengaruhi kualitas penguasaan BII mereka, apa lagi bagi mahasiswa yang memiliki
kompetensi bahasa ilmiah yang lemah.
Bertolak dari asumsi bahwa pengunaan bahasa tertulis yang lebih leluasa daripada
penggunaan bahasa lisan karena si penulis bebas dari kendala waktu dan kehadiran lawan
komunikasinya, peneliti menyimpulkan bahwa karya tulis yang diteliti merupakan
cerminan dari taraf pengetahuan dan kemampuan bahasa Indonesia penulisnya karena
karya tulis yang mereka hasilkan telah melewati proses pemikiran, perencanaan, dan
pemantauan yang memadai. Singkatnya, karya tulis yang diteliti menunjukkan
kekurangmemadaian pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang terkait dengan
ragam bahasa Indonesia ilmiah. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Indonesia yang
mereka jalani dapat dikatakan kurang berhasil, meskipun mereka termasuk kelompok
yang berkemampuan rata-rata.
Rumusan Masalah
Penelitian ini terfokus pada permasalahan yang berkaitan dengan bagaimana kompetensi
atau penguasaan bahasa Indonesia mahasiswa dalam ranah menulis akademik Dalam
interaksi sosial dan rutinitas komunikasi dijumpai pemakaian bentuk-bentuk kalimat yang
ilmiah dan nonilmiah. Penggunaan kalimat-kalimat ini, baik langsung atau tidak
langsung, akan mempengaruhi tuturan seseorang. Kemampuan literasi yang dilihat dalam
penelitian ini adalah kemampuan mahasiswa menuangkan gagasan dalam konteks
wacana pada kegiatan menulis akademik bahasa Indonesia.
LANDASAN TEORI
Di dalam pemakaian bahasa ditemukan sejumlah ragam bahasa. Ragam bahasa
merupakan salah satu dari sejumlah variasi yang terdapat dalam pemakaian bahasa.
Variasi itu muncul karena pemakaian bahasa memerlukan alat komunikasi yang sesuai
dengan situasi dan kondisinya. Agar banyaknya variasi itu tidak mengurangi fungsi
bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk
memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu. Variasi itu disebut ragam
standar (Kridalaksana, 1985:134). Tujuan akhirnya adalah untuk memperoleh alat
komunikasi yang sebaik-baiknya dan seefisien-efisiennya dalam segala kegiatan hidup
pemakainya. Untuk mendapatkannya dianggap perlu adanya kebakuan bahasa atau
kestandaran bahasa (Sumitro : 1983 : 137).
Halim (1980:28) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang
dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakainya sebagai ragam
resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya. Sebagai kerangka
rujukan, ragam baku ditandai oleh norma dan kaidah yang digunakan sebagai pengukur
benar atau tidaknya penggunaan bahasa. Dittmar (1976:8) mengatakan pula bahwa
bahasa baku adalah ragam ujaran dari satu masyarakat yang disahkan sebagai norma
keharusan bagi pergaulan sosial atas kepentingan dari berbagai pihak yang dominan di
dalam masyarakat itu. Tindakan pengesahan norma itu dilakukan melalui pertimbangan
nilai yang bermotivasi sosio politik. Bahasa baku adalah ragam bahasa yang secara sosial
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.3
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
lebih digandrungi, seringkali lebih berdasarkan pada ujaran orang-orang yang
berpendidikan di dalam dan di sekitar pusat kebudayaan dan atau politik suatu
masyarakat tutur (Hartmann dan Stork, 1972:8).
Mahasiswa merasa, menulis sebagai cara baru mengomunikasikan sesuatu yang
berbeda dengan bahasa lisan. Mereka mengobservasi lingkungan dengan literasi (sumber
bacaan), dengan cara ini mereka merasa bahwa literasi adalah bagian dari perkembangan
alamiah mereka. Demikian juga, dosen memahami bahwa menulis sering berkembang
secara simultan dan dapat membantu siswa menemukan kembali kemunculan
keterampilan literasi di dalam sebuah konteks yang bermakna (Graves, 2001).
Selain kesadaran-kesadaran baru yang dimotivasi oleh perubahan praktis dalam
kehidupan sehari-hari, terjadi pula kesadaran-kesadaran baru pada tataran teoretis atau
filosofis yang membentuk paradigma baru dalam memaknai pengajaran bahasa.
Perubahan yang cukup signifikan adalah diletakkannya wacana atau discourse dalam
posisi sentral.
Meskipun kesadaran akan pentingnya wacana dalam dunia pendidikan bahasa
telah ada selama kurang lebih tiga puluh tahunan, namun baru belakangan ini analisis
wacana memasuki jalur utama dalam pendidikan bahasa asing di sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi di Eropa dan Amerika (Kern 2000:18). Pergeseran paradigma
pengajaran bahasa menuju ke pengajaran bahasa yang menyiapkan siswanya untuk
memiliki kompetensi agar dapat berpartisipasi dalam masyarakat modern ini disebut oleh
Kern (2000:15) sebagai pendekatan literasi. Pendekatan ini menurut Kern:
represents a style of teaching educators ought to consider if they wish to prepare
learners for full participation in societies that increasingly demand multilingual,
multicultural and multitextual competence (Kern, 2000:15-16)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Gunadarma. Subjek penelitian adalah
mahasiswa berbagai fakultas yang mendapat mata kuliah bahasa Indonesia. Data
penguasaan BII mahasiswa diperoleh melalui tes. Data yang diperoleh itu selanjutnya
dianalisis secara kuantitatif. Dari hasil analisis inilah selanjutnya diperoleh data kualitas
penguasaan BII mahasiswa.
Tes yang dijadikan instrumen berupa tes analisis kalimat. Kalimat-kalimat yang
disajikan sengaja dipilih dari kalimat-kalimat yang digunakan pada penyusunan makalah.
Di antara kalimat-kalimat itu terdapat sejumlah kalimat dengan pola baku, dan sisanya
merupakan kalimat-kalimat nonbaku yang dipengaruhi oleh sistem bahasa nonbaku.
Sistem bahasa nonbaku yang dimaksud adalah ragam pemakaian yang dipengaruhi oleh
bahasa daerah, bahasa asing, maupun ragam-ragam bahasa yang lain.
Untuk mengetahui daya tahan penguasaan BII mahasiswa terhadap pengaruh
lingkungan bahasa digunakan rumus sebagaimana yang dikemukakan oleh Nazar
(1993:82):
Dt = N
B (S S ) 1 + −
x 100 %
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.4
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Keterangan :
Dt = Daya tahan penguasaan BII
B = Pilihan kalimat baku
S = Jumlah kalimat nonbaku
S1 = Pilihan kalimat nonbaku
N = Jumlah soal seluruhnya
Untuk mengukur besar pengaruh lingkungan bahasa terhadap penguasaan BII
mahasiswa digunakan rumus:
Pl = 100 % -Dt
Keterangan :
Pl = Pengaruh lingkungan bahasa
Dt = Daya tahan penguasaan BII
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas Penguasaan Bahasa Indonesia Ilmiah Mahasiswa
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas penguasaan BII mahasiswa, salah satu faktor adalah kemampuan menuangkan gagasan dalam konteks wacana dan lingkungan bahasa. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes yang disajikan kepada 60 orang mahasiswa Fakultas Ekonomi sebagai sampel penelitian. Data diambil secara acak. Jika dilihat skor rata-rata
tes penguasaan BII untuk pilihan kalimat baku, yakni 18,42, penguasaan BII mahasiswa
dapat dikategorikan baik. Namun dari 25 soal yang disajikan, tak satu pun soal yang
dijawab benar oleh seluruh sampel. Ini berarti bahwa kalimat yang sudah baku pun masih
diragukan oleh sebagian besar mahasiswa. Mahasiswa masih susah membedakan mana
kalimat yang baku dan mana yang tidak baku, apalagi jika dilihat pilihan siswa terhadap
kalimat nonbaku. Hal tersebut menunjukkan bahwa, walaupun mahasiswa sudah dibekali
pengetahuan tentang BII, bahkan sering berinteraksi dengan menggunakan BII, namun
mereka masih terpengaruh oleh penggunaan kalimat nonbaku.
Dengan rata-rata persentase daya tahan penguasaan BII 62,3% dan pengaruh
lingkungan bahasa 37,7%, dapat digeneralisasikan bahwa mahasiswa Fakultas Ekonomi
di Universitas Gunadarma sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan bahasa karena
daya tahan penguasaan BII-nya masih tergolong sedang. Sebesar 37,7% bentuk-bentuk
nonbaku mempengaruhi penguasaan BII mahasiswa.
Data yang diperoleh melalui tes dengan sampel mahasiswa sebanyak 60 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunaan unsur-unsur bahasa menyimpang dari
kaidah-kaidah ragam bahasa ilmiah karena kurang nalar/relevan, kurang jelas/ekplisit,
dan kurang lugas/padat. Penyimpangan kenalaran terjadi pada penataan paragraf
(62,85%), kalimat (51,3%), dan kata (51,6%). Penyimpangan kejelasan terjadi pada
penataan kalimat (37,9%), pemilihan kata (28,3%), penataan paragraf (10,3%), dan
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.5
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
penataan kalimat (6%). Secara keseluruhan kelemahan utama terletak pada penataan
kalimat dan paragraf.
Kesalahan-kesalahan atau ketidakbakuan kalimat yang oleh mahasiswa dianggap
baku, tentu kalimat-kalimat yang lazim dibaca atau didengarnya. Oleh karenanya mereka
menganggap kalimat-kalimat tersebutlah yang baku. Memang tidak tertutup pula
kemungkinan bahwa pengetahuan mahasiswa untuk menganalisis dan membedakan
kalimat baku dan tidak baku masih lemah.
Ini terbukti karena kalimat-kalimat nonbaku yang disajikan pada tes merupakan
bentuk-bentuk kalimat yang sering digunakan oleh masyarakat umum atau masyarakat
pemakai bahasa pada media massa. Kalimat-kalimat nonbaku yang dianggap mahasiswa
sebagai kalimat baku tersebut juga merupakan kalimat yang sering digunakan oleh
masyarakat umum. Tanpa disadari oleh pemakainya, kalimat-kalimat tersebut adalah
kalimat nonbaku yang terpengaruh oleh struktur bahasa lain, ataupun ragam pemakaian
kelompok masyarakat tertentu.
Bahasa Lisan yang Dituliskan
Dalam susasana informal ketika mahasiswa bercakap-cakap dengan teman sebaya,
mereka begitu lepas tidak terikat dengan kebakuan. Bahkan mereka sangat kreatif
menciptakan kata-kata baru yang disepakati secara tidak tertulis dan hanya dipahami oleh
mereka.. Perhatikan cuplikan percakapan berikut dengan latar kampus;
R: Nola minggu lalu, kan elu gue suruh ke perpus cari data buat tugas kita,
Gimana, udah dapet belon?
B: Beres, Bo! Pokoknya sip, dah! Tapi, buat tugas yang kedua, gue belon dapet.
L: Ya, elu...., itu pan, penting buat gua
N: Ya...abis gimane. Soalnya lagi ayik-asyiknya nih, eh si Jabrik nongol. Elu, pan,
tau, gue sebel banget ame die. Bete, deh, gue!
L: Gue ngerti. Emang sih, die tuh tampangnya aje jutek and garang. Boro-boro
ngobrol ame die, ngeliatnya aje gue udeh segen. Lagaknya sepak!
N: Nah, tuh, die mangkenye gue rada panas kalau ada die. Kagak ada
juntrungannya, bawaann gue beteee, aje. Begitu ngeliat, kontan aje gue cabut
pulang.
R: Buju buneng, tuh orang pan, otaknye selalu ngeres, kedoyanannya Cuma bokep.
Ya, udeh, sekarang gimane, nih, tugas kite. Soalnya, gue, lagi keranjingan buat
tugas, nih.
N: Gue, nanti ke sono lagi, deh. Gue udeh janjian ama Rina mau bareng ke sono
besok.
(Candrayani dan Sri Hapsari, 2004)
Dalam percakapan di atas, banyak unsur kegramatikalan yang ditanggalkan, seperti
pelesapan subjek, peringkasan kata, pemenggalan huruf, atau peralihan kode bahasa.
Namun, semua itu berlangsung lancar-lancar saja, tidak ada hambatan yang disebabkan
salah satu partisipan tidak memahami makna atau maksud ujaran mitra tutur. Dalam hal
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.6
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
ini Moeliono (1980) mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah karena tiras atau
inti bersama yang mereka gunakan masih sama, yaitu Bahasa Indonesia.
Bahasa Tulis Ragam Ilmiah Mahasiswa
Berikut beberapa contoh kalimat yang ditulis apa adanya dari makalah mahasiswa.
Simaklah kata yang diberi huruf tebal sekaligus huruf miring .
1. Dalam hal ini kami berikan masukan,al:
Sebaiknya PT. XYZ menggunakan sistim FRANCO dalam menjual hasil produksi
dimana PT. XYZ turut mengatur mengenai pengangkutan barang yang dijual.
Untuk jangka pendek sebaiknya digunakan sistim armada angkutan gabungan
dimana perusahaan mengkoordinir truk-truk dari beberapa perusahaan angkutan
yang dipandang cukup bonafid.
2. Pada ”PT Panasonic” bergerak di bidang elektronika di dalam perusahaan tersebut
pasti memperhitungkan laba yang didapat, karena semakin banyaknya persaingan
antar perusahaan yang pada sekarang ini. Jadi didalam untuk memperhitungkan
laba yang didapat dengan melakukan cara yaitu melakukan peningkatan harga jual
produk atau menekan biaya untuk produksi.
3. Perusahaan akan mengalami kesulitan dalam penelitian kekayaan secara fisik apabila
keempat unsur di atas tidak di lakukan secara propesional karena didalam
pelaksanaan atau membuat laporan-laporan yang di peroleh seorang manager
perusahaan tidaklah secara bersamaan melainkan laporan actual yang sebenarnya,
maksud daripada laporan ini adalah apabila seorang manager minta data
persediaan barang dan cost persediaan tersebut, apabila catatan akuntansi tidak sama
dengan departemen gudang (persediaan) maka manager akan tidak percaya akan
laporan yang dibuat. Untuk itu perusahaan lebih baik memberikan otoritas pada setiap
departemen agar laporan yang akan disampaikan lebih tercontrol.
4. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
Penulis dapat pengalaman dan menambah wawasan sekaligus penulis berkesempatan
membedakan antara ilmu yang diperoleh dengan kenyataan.
Contoh-contoh di atas tentunya tidak kita harapkan muncul dalam tulisan mahasiswa.
Karena itu, kita perlu membimbing bagaimana mahasiswa menulis dengan benar dari
segala aspek kebahasaan. Mereka perlu diberi tubian menulis karya ilmiah, laporan
penelitian, dan sebagainya oleh pengajar. Hal demikian perlu diajarkan oleh pengajar
agar kelak bila mereka terjun ke dunia kerja, yaitu saat mereka dituntut harus berbicara di
muka umum (bernegosiasi dengan klien, misalnya), menulis makalah untuk
dipresentasikan dengan klien, berdebat ilmiah, atau menulis surat dinas/resmi,mereka
tidak lagi menunjukkan keteledoran, kekurangcermatannya dalam berbicara atau menulis
dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Menurut pengamatan peneliti salah satu pemicu ketidaktaatan mahasiswa dalam
menulis berhubungan dengan lingkungan bahasa. Seperti kita ketahui pola bahasa
pergaulan anak muda di Jakarta mempunyai pola bahasa yang khas. Pola-pola ini muncul
akibat pengaruh dari bahasa penutur ataupun pengaruh bahasa asing yang dipelajari di
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.7
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
kampus atau tempat kursus. Munculnya pola-pola ini menyebabkan bahasa mereka
tampak tidak konsisten dalam pemakaiannya. Mereka mencampuradukkan bahasa baku,
nonbaku, dan bahasa pergaulan mereka.
Dalam hal ini yang paling mencolok tampak dalam penulisan mereka ialah kosa
kata dan struktur kalimat. Bukan saja mereka menggunakan kata-kata asing yang telah
diindonesiakan, melainkan juga mengabaikan tanda baca. Lebih dari itu, tulisan mereka
juga mencerminkan ketidakcermatannya dalam mengetik dan tidak menata gagasan
secara apik. Kesan sembrono seperti ini dapat disebabkan oleh ketidaktahuannya,
ketidakpeduliannya terhadap pemakaian bahasa baku, kurangnya minat terhadap bahasa
Indonesia, atau kesombongannya.
Menulis Akademik (academic writing)
Menulis akademik (academic writing) bukan pekerjaan yang sulit, tetapi juga tidak
mudah. Seperti kiat yang ditawarkan oleh David Nunan (1991 : 86) tentang konsep
pengembangan keterampilan menulis yang meliputi : (1) perbedaan antara bahasa lisan
dan bahasa tulis, (2) menulis sebagai proses dan menulis sebagai produk, (3) struktur
generik wacana tulis, dan (4) penerapan keterampilan menulis dalam pembelajaran.
Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis tampak pada fungsi dan karakteritik
yang dimiliki oleh keduanya. Namun, yang patut diperhatikan adalah kedua bahasa itu
harus memiliki fungsi komunikasi. Dari sudut pandang inilah dapat diketahui bagaimana
hubungan antara bahasa lisan dan bahasa tulis sehingga dapat diaplikasikan dalam
pembelajaran dan pelatihan keterampilan tulis menulis.
Menurut Soewardjono (2005 : 3), menulis adalah kegiatan menyusun serta
merangkaikan kalimat sedemikian rupa agar pesan, informasi, serta maksud yang
terkandung dalam pikiran, gagasan dan pendapat penulis dapat disampaikan dengan baik.
Untuk itu, setiap kalimat harus disusun sesuai dengan kaidah-kaidah gramatika, sehingga
mampu mendukung pengertian baik dalam taraf significance maupun dalam taraf value.
Kalimat-kalimat yang demikian itu diwujudkan di atas kertas dengan menggunakan
media visual menurut grafologi tertentu. Penguasaan terhadap sistem grafologi ini, yakni
sistem yang digunakan dalam suatu bahasa merupakan kemampuan prasarana yang harus
dikuasai oleh penulis.
Keefektifan usaha di atas dipengaruhi oleh sikap dan tanggapan kita terhadap
bahasa Indonesia. Komunikasi ilmiah dalam bahasa Indonesia belum sepenuhnya
mencapai titik kesepakatan yang tinggi dalam hal kesamaan pemahaman terhadap kaidah
bahasa termasuk kosa kata. Beberapa kenyataan atau faktor menjelaskan hal ini. Pertama,
kebanyakan orang dalam dunia akademik belajar berbahasa Indonesia secara alamiah.
Artinya orang belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apakah
bentuk bahasa tersebut secara kaidah benar atau tidak Lebih dari itu, akademisi
kadangkala lebih menekankan selera bahasa daripada penalaran bahasa. Akibatnya,
masalah kebahasaan Indonesia dianggap hal yang sepele (trivial) dan dalam menghadapi
masalah bahasa orang lebih banyak menggunakan argumen ”yang penting tahu
maksudnya.”
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.8
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Kedua, bahasa Indonesia harus bersaing dengan bahasa asing (Inggris). Kenyataan
ini tidak hanya terjadi pada tingkat penggunaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat
umum tetapi juga dalam kehidupan akademik. Cendekiawan dan orang yang berpengaruh
biasanya mempunyai kosakata asing yang lebih luas daripada kosa kata bahasa
Indonesianya sehingga mereka merasa lebih asing dengan bahasa Indonesia. Media
massa juga memperparah masalah terutama televisi apakah bahasa Indonesia ataukah
penyelenggara acara yang miskin kosa kata? Kalau tidak, apakah menggunakan bahasa
Indonesia kurang bergengsi?
Ketiga, kalangan akademik sering telah merasa mampu berbahasa Indoneia
sehingga tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia atau membuka kamus bahasa
Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya orang sering merasa
lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing.
Anehnya, kalau orang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya,
mereka dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan
mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu
aneh. Akan tetapi, kalau mereka mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi
dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan ”Apa
artinya ini, kok aneh-aneh?” dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka
kamus dan menggunakannya secara tepat. Seseorang yang bersikap demikian lupa bahwa
kemampuan menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual
memerlukan kemampuan berbahasa dan penguasaan kosakata pada tingkat yang
memadai.


Jenis Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Mahasiswa
Jenis kemahiran berbahasa Indonesia :
Tabel 1 :
Situasi dan Kegiatan yang menggunakan BI
Kegiatan dalam BI
Kegiatan Ketrampilan ber-BI
1. Kuliah/ceramah 1. menyimak dan memahami
2. mencatat hasil menyimak
3. mengajukan pertanyaan untuk ;
pengulangan, klarifikasi, dan informasi
2. Seminar/tutorial/diskusi/supervisi 1. menyimak dan mencatat
2. bertanya-seperti di atas
3. menjawab pertanyaan-menjelaskan
4. menyetujui dan menyanggah,
mengemukakan sudut pandang, memberi
alasan menyela
5. berbicara dengan (tanpa catatan;
menyajikan makalah, mengambil inisiatif
berkomentar menanggapi,membeberkan
data dengan kata
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.9
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
3. praktikum/kerja lab/kerja
lapangan
1. memahami instruksi, baik tertulis maupun
lisan, formal maupun informal, bertanya,
meminta bantuan
2. mencatat hasil
4. belajar sendiri/membaca (jurnal
& buku)
1. membaca secara efisien; pemahaman dan
kecepatan
2. scanning dan skimming; mengevaluasi
3. memahami dan menganalisis data (grafik,
diagaram, etc.)
4. mencatat, mengatur catatan menurut
urutan kepentingan
5. menyingkat dan membuat parafrase
5.ketrampilan referensi/ketrampilan
dalam pemanfaatan perpustakaan
Ketrampilan penelitian dan referensi;
1. menggunakan daftar isi, indeks
2. menggunakan kamus secara efisien
3. memahami sistem klasifikasi
4. menggunakan katalog perpustakaan
(subject/author) dalam kartu atau sistem
elektronik, microface, dan komputer
5. menemukan informasi secara cepat (bukubuku
acuan dan bibliografi)
6. merangkum informasi
6.esei/laporan/proyek/studi/kasus/di
sertasi/tesis/makalah
penelitian/artikel
1. perencanaan, penulisan buram, merevisi
2. merangkum, membuat parafrase, dan
mensintesis
3. menulis secara kontinyu dalam gaya
akademik dan diatur secara tepat
4. menggunakan kutipan, catatan kaki,
bibliografi
5. menemukan dan menganalisis bukti;
menggunakan data secara tepat
7. penelitian (terkait dengan 3-6 di
atas)
1. mewawancarai
2. merancang angket
3. melakukan survei
8.ujian:
• tertulis
• lisan
1. menyiapkan diri untuk ujian (teknik)
2. revisi
3. memahami pertanyaan/perintah
4. menulis cepat, sempitnya waktu
5. menjawab pertanyaan/secara eksplisit, tepat
6. menjelaskan, memerikan, memberikan
justifikasi
Sumber ; Jordan, 1997
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.10
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Jika semua komponen bahasa diterapkan pada penggunaan bahasa Indonesia sesuai
dengan tujuan dalam penulisan ilmiah masing-masing bidang studi, yang pada lazimnya
dalam situasi formal, maka dengan sendirinya ragam bahasa yang digunakan adalah
ragam bahasa formal, yang pemilihan kata/ungkapannya harus tepat dan susunan tata
bahasanya harus akurat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Gambaran ini menunjukkan lemahnya kompentensi bahasa mahasiswa, khususnya
kemampuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk nonbaku dari suatu tuturan atau
tulisan. Oleh karena itulah mahasiswa cenderung memilih kalimat tersebut sebagai
kalimat baku karena memang bentuk-bentuk tersebut sering didengar atau dibacanya. Ini
menunjukkan pula bahwa lingkunganlah yang menjadi acuan berbahasa mahasiswa.
Konsekuensi dari hal ini adalah, masyarakat penutur bahasa Indonesia tidak taat asas. Ini
sekaligus menunjukkan bukti bahwa masyarakat lebih cenderung mengutamakan
tersampainya pesan komunikasi dan mengesampingkan struktur bahasa .
Walaupun kasus kompetensi BII hanya pada lingkungan mahasiswa Universitas
Gunadarma, namun hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran kualitas BII
mahasiswa pada umumnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas penguasaan bahasa Indonesia baku
(BII) pada mahasiswa Gunadarma adalah kemampuan menuangkan gagasan
dalam konteks wacana dan lingkungan bahasa. Mahasiswa masih terpengaruh
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.11
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
oleh penggunaan kalimat-kalimat nonbaku. Dengan demikin, pengaruh negatif
pemakaian bahasa masih dominan mempengaruhi kompetensi bahasa mahasiswa.
2. Mahasiswa masih susah mengidentifikasi ketidakbakuan sebuah kalimat sehingga
menganggap kalimat nonbaku sebagai kalimat yang baku.
3. Mahasiswa masih terpengaruh oleh bentuk-bentuk nonbaku yang dipengaruhi
oleh bahasa Inggris, bahasa daerah, dan bentuk-bentuk ragam pemakaian bahasa
nonbaku lainnya.
 DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 1993. Tata Bahasa Baku Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Badudu, J.S. 1986. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: Gramedia.
Bloomfield, Leonard. 1973. Language. New York: Holt, Reinhart-Hall of India Private
Limited.
Brown, H.D. 1980. Principles of Language Learning and Teaching. Englewood Cliffs:
Prantice-Hall Inc.
Candrayani, Amalia dan Wijayanti, Sri Hapsari, 2004. Bahasa Pergaulan Jakarta.
Jakarta: Rumah.
Chaer, Abdul dan Agustina, Leoni. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud. 1991. Pedoman dan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta:
Balai Pustaka.
Ditmar, N. 1976. Sociolinguistics: A Critical Survey of Theory and Aplication. London:
Edward Arnold Ltd.
Education Commission of The States Initiative. 2000. Service-Learning and Preservice
Teacher Education. Learning in Indeed Issue Paper.www.ecs.org.
Graves, Donald. 2001. Emergent Reading and Writing Connection. School Improvement
in Maryland. (online). (http://www.mdk12.org/practices/ good_
instruction/projectbetter/elangarts/ela-97-99.html
Hamid, Fuad Abdul. 1987. Prosedur Belajar-Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud,
Dikti PPLPTK.
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.12
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Hanley, S. On Constructivism. Maryland: Maryland Collaborative for Teacher
Preparation
Jordan, R.R. (1997). English for Academic Purposes : A Guide and Resources Book for
Teachers. Cambridge : CUP
Halim, Amran. 1976. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Hymes, Dell. 1976. Language in Culture and Society. New York: Harper and Row
Publishers.
Kridalaksana, Harimurti. 1985. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Ende Flores: Nusa
Indah.
Kern, N. 2000. Criteria for Authentic Project-Based Learning. Denver: RMC Reseach
Corporation.
Moeliono, Anton M. (ed). 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum
Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nazar, Noerzisri A. 1993. Pengaruh Lingkungan Bahasa Terhadap Pemakaian Bahasa
Indonesia Baku Pada Mahasiswa. Jakarta: MLI Jakarta
Muhadjir, 1984. Morfologi Dialek Jakarta : Afiksasi dan Reduplikasi. Jakarta;
Djambatan.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1997. ”Ihwal Bahasa Tak Baku : Bahasa yang baik dan tidak
Benar?” Atma nan jaya. Th.X. No. 3
Salinger, Terry. 2001. Literate Environment. School Improvement in Maryland. (online).
(http://www.mdk12.org/practices/good_instruction/projectbetter/elangarts/ela-62-
63.html)
Sri Hapsari. 2005. ”Bahasa Pergaulan Anak Muda Jakarta; Kajian terhadap Bahasa Baku
dan NonBaku”. Kajian Linguistik dan Sastra. Vol. 7. No. 32.:UMS
Soewardjono. 2005. ”Menulis Akademik. Makalah disajikan pada Refreshing Fakultas
Ekonomi”. Jakarta: Gunadarma.
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.13
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
source :  http://pemudaniasutara.blogspot.com/2012/03/ketrampilan-literasi-dalam-konteks.html