Rabu, 01 Mei 2013

Kesusastraan Indonesia

Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.1
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
KETRAMPILAN LITERASI DALAM KONTEKS WACANA
BAHASA INDONESIA DALAM RANAH MENULIS AKADEMIK
Tri Wahyu R. N
Fakultas Sastra
Universitas Gunadarma
Jl. Akses UI- Kelapa Dua Cimanggis, Depok
Telp. (021) 8727541 ext (312)
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan literasi mahasiswa dalam menulis
ragam ilmiah. Seperti halnya, tujuan pendidikan bahasa adalah memberikan
pengalaman kepada mahasiswa dengan pembelajaran terpadu melalui lingkungan mahir
literasi (literate environment) yang diasumsikan dapat meningkatkan pembelajaran
karena mahasiswa menggunakan proses-proses yang saling berkaitan antara membaca,
menulis, berbicara, dan mendengarkan untuk komunikasi alamiah senyatanya (authentic
communication) (Salinger, 2001). Ketrampilan literasi yang dituntut untuk mahasiswa
adalah mencakup kemahiran berkomunikasi dalam situasi akademik. Data diperoleh
melalui tes dengan sampel mahasiswa sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pengunaan unsur-unsur bahasa menyimpang dari kaidah-kaidah ragam bahasa
ilmiah, karena kurang nalar/relevan, kurang jelas/ekplisit, dan kurang lugas/padat.
Penyimpangan kenalaran terjadi pada penataan paragraf (62,85%), kalimat (51,3%),
dan kata (51,6%). Penyimpangan kejelasan terjadi pada penataan kalimat (37,9%),
pemilihan kata (28,3%), penataan paragraf (10,3%), dan penataan kalimat (6%). Secara
keseluruhan kelemahan utama terletak pada penataan kalimat dan paragraf.
Kata kunci: literasi, wacana, bahasa Indonesia, ranah akademik
PENDAHULUAN
Mahasiswa sebagai individu yang berada dalam lingkungan akademik, dituntut
kualitasnya, tidak hanya kemampuan olah pikir, tetapi juga pengungkapan pikiran-pikiran
rasional dengan bahasa yang tepat, baik dan cermat. Dalam menuntut ilmu, mahasiswa
setiap hari berkecimpung dalam kegiatan ilmiah, baik sebagai penerima ilmu
pengetahuan maupun sebagai penyebar ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan inilah
dituntut penguasaan bahasa Indonesia yang baik sehingga dapat menggunakan bahasa
tersebut dengan baik, tepat, dan cermat. Di samping itu, sesuai dengan fungsi
pemakaiannya, dituntut pula penggunaan bahasa Indonesia ilmiah (selanjutnya disebut
BII). Kegiatan ini dapat dilihat dalam bentuk perkuliahan, diskusi ilmiah, atau dalam
pembuatan karya ilmiah. Ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan ini tentu ragam
BII. Mahasiswa dihadapkan pada berbagai ragam penggunaan bahasa, yang akhirnya
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.2
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
mempengaruhi kualitas penguasaan BII mereka, apa lagi bagi mahasiswa yang memiliki
kompetensi bahasa ilmiah yang lemah.
Bertolak dari asumsi bahwa pengunaan bahasa tertulis yang lebih leluasa daripada
penggunaan bahasa lisan karena si penulis bebas dari kendala waktu dan kehadiran lawan
komunikasinya, peneliti menyimpulkan bahwa karya tulis yang diteliti merupakan
cerminan dari taraf pengetahuan dan kemampuan bahasa Indonesia penulisnya karena
karya tulis yang mereka hasilkan telah melewati proses pemikiran, perencanaan, dan
pemantauan yang memadai. Singkatnya, karya tulis yang diteliti menunjukkan
kekurangmemadaian pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang terkait dengan
ragam bahasa Indonesia ilmiah. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Indonesia yang
mereka jalani dapat dikatakan kurang berhasil, meskipun mereka termasuk kelompok
yang berkemampuan rata-rata.
Rumusan Masalah
Penelitian ini terfokus pada permasalahan yang berkaitan dengan bagaimana kompetensi
atau penguasaan bahasa Indonesia mahasiswa dalam ranah menulis akademik Dalam
interaksi sosial dan rutinitas komunikasi dijumpai pemakaian bentuk-bentuk kalimat yang
ilmiah dan nonilmiah. Penggunaan kalimat-kalimat ini, baik langsung atau tidak
langsung, akan mempengaruhi tuturan seseorang. Kemampuan literasi yang dilihat dalam
penelitian ini adalah kemampuan mahasiswa menuangkan gagasan dalam konteks
wacana pada kegiatan menulis akademik bahasa Indonesia.
LANDASAN TEORI
Di dalam pemakaian bahasa ditemukan sejumlah ragam bahasa. Ragam bahasa
merupakan salah satu dari sejumlah variasi yang terdapat dalam pemakaian bahasa.
Variasi itu muncul karena pemakaian bahasa memerlukan alat komunikasi yang sesuai
dengan situasi dan kondisinya. Agar banyaknya variasi itu tidak mengurangi fungsi
bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk
memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu. Variasi itu disebut ragam
standar (Kridalaksana, 1985:134). Tujuan akhirnya adalah untuk memperoleh alat
komunikasi yang sebaik-baiknya dan seefisien-efisiennya dalam segala kegiatan hidup
pemakainya. Untuk mendapatkannya dianggap perlu adanya kebakuan bahasa atau
kestandaran bahasa (Sumitro : 1983 : 137).
Halim (1980:28) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang
dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakainya sebagai ragam
resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya. Sebagai kerangka
rujukan, ragam baku ditandai oleh norma dan kaidah yang digunakan sebagai pengukur
benar atau tidaknya penggunaan bahasa. Dittmar (1976:8) mengatakan pula bahwa
bahasa baku adalah ragam ujaran dari satu masyarakat yang disahkan sebagai norma
keharusan bagi pergaulan sosial atas kepentingan dari berbagai pihak yang dominan di
dalam masyarakat itu. Tindakan pengesahan norma itu dilakukan melalui pertimbangan
nilai yang bermotivasi sosio politik. Bahasa baku adalah ragam bahasa yang secara sosial
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.3
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
lebih digandrungi, seringkali lebih berdasarkan pada ujaran orang-orang yang
berpendidikan di dalam dan di sekitar pusat kebudayaan dan atau politik suatu
masyarakat tutur (Hartmann dan Stork, 1972:8).
Mahasiswa merasa, menulis sebagai cara baru mengomunikasikan sesuatu yang
berbeda dengan bahasa lisan. Mereka mengobservasi lingkungan dengan literasi (sumber
bacaan), dengan cara ini mereka merasa bahwa literasi adalah bagian dari perkembangan
alamiah mereka. Demikian juga, dosen memahami bahwa menulis sering berkembang
secara simultan dan dapat membantu siswa menemukan kembali kemunculan
keterampilan literasi di dalam sebuah konteks yang bermakna (Graves, 2001).
Selain kesadaran-kesadaran baru yang dimotivasi oleh perubahan praktis dalam
kehidupan sehari-hari, terjadi pula kesadaran-kesadaran baru pada tataran teoretis atau
filosofis yang membentuk paradigma baru dalam memaknai pengajaran bahasa.
Perubahan yang cukup signifikan adalah diletakkannya wacana atau discourse dalam
posisi sentral.
Meskipun kesadaran akan pentingnya wacana dalam dunia pendidikan bahasa
telah ada selama kurang lebih tiga puluh tahunan, namun baru belakangan ini analisis
wacana memasuki jalur utama dalam pendidikan bahasa asing di sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi di Eropa dan Amerika (Kern 2000:18). Pergeseran paradigma
pengajaran bahasa menuju ke pengajaran bahasa yang menyiapkan siswanya untuk
memiliki kompetensi agar dapat berpartisipasi dalam masyarakat modern ini disebut oleh
Kern (2000:15) sebagai pendekatan literasi. Pendekatan ini menurut Kern:
represents a style of teaching educators ought to consider if they wish to prepare
learners for full participation in societies that increasingly demand multilingual,
multicultural and multitextual competence (Kern, 2000:15-16)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Gunadarma. Subjek penelitian adalah
mahasiswa berbagai fakultas yang mendapat mata kuliah bahasa Indonesia. Data
penguasaan BII mahasiswa diperoleh melalui tes. Data yang diperoleh itu selanjutnya
dianalisis secara kuantitatif. Dari hasil analisis inilah selanjutnya diperoleh data kualitas
penguasaan BII mahasiswa.
Tes yang dijadikan instrumen berupa tes analisis kalimat. Kalimat-kalimat yang
disajikan sengaja dipilih dari kalimat-kalimat yang digunakan pada penyusunan makalah.
Di antara kalimat-kalimat itu terdapat sejumlah kalimat dengan pola baku, dan sisanya
merupakan kalimat-kalimat nonbaku yang dipengaruhi oleh sistem bahasa nonbaku.
Sistem bahasa nonbaku yang dimaksud adalah ragam pemakaian yang dipengaruhi oleh
bahasa daerah, bahasa asing, maupun ragam-ragam bahasa yang lain.
Untuk mengetahui daya tahan penguasaan BII mahasiswa terhadap pengaruh
lingkungan bahasa digunakan rumus sebagaimana yang dikemukakan oleh Nazar
(1993:82):
Dt = N
B (S S ) 1 + −
x 100 %
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.4
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Keterangan :
Dt = Daya tahan penguasaan BII
B = Pilihan kalimat baku
S = Jumlah kalimat nonbaku
S1 = Pilihan kalimat nonbaku
N = Jumlah soal seluruhnya
Untuk mengukur besar pengaruh lingkungan bahasa terhadap penguasaan BII
mahasiswa digunakan rumus:
Pl = 100 % -Dt
Keterangan :
Pl = Pengaruh lingkungan bahasa
Dt = Daya tahan penguasaan BII
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas Penguasaan Bahasa Indonesia Ilmiah Mahasiswa
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas penguasaan BII mahasiswa, salah satu faktor adalah kemampuan menuangkan gagasan dalam konteks wacana dan lingkungan bahasa. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes yang disajikan kepada 60 orang mahasiswa Fakultas Ekonomi sebagai sampel penelitian. Data diambil secara acak. Jika dilihat skor rata-rata
tes penguasaan BII untuk pilihan kalimat baku, yakni 18,42, penguasaan BII mahasiswa
dapat dikategorikan baik. Namun dari 25 soal yang disajikan, tak satu pun soal yang
dijawab benar oleh seluruh sampel. Ini berarti bahwa kalimat yang sudah baku pun masih
diragukan oleh sebagian besar mahasiswa. Mahasiswa masih susah membedakan mana
kalimat yang baku dan mana yang tidak baku, apalagi jika dilihat pilihan siswa terhadap
kalimat nonbaku. Hal tersebut menunjukkan bahwa, walaupun mahasiswa sudah dibekali
pengetahuan tentang BII, bahkan sering berinteraksi dengan menggunakan BII, namun
mereka masih terpengaruh oleh penggunaan kalimat nonbaku.
Dengan rata-rata persentase daya tahan penguasaan BII 62,3% dan pengaruh
lingkungan bahasa 37,7%, dapat digeneralisasikan bahwa mahasiswa Fakultas Ekonomi
di Universitas Gunadarma sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan bahasa karena
daya tahan penguasaan BII-nya masih tergolong sedang. Sebesar 37,7% bentuk-bentuk
nonbaku mempengaruhi penguasaan BII mahasiswa.
Data yang diperoleh melalui tes dengan sampel mahasiswa sebanyak 60 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunaan unsur-unsur bahasa menyimpang dari
kaidah-kaidah ragam bahasa ilmiah karena kurang nalar/relevan, kurang jelas/ekplisit,
dan kurang lugas/padat. Penyimpangan kenalaran terjadi pada penataan paragraf
(62,85%), kalimat (51,3%), dan kata (51,6%). Penyimpangan kejelasan terjadi pada
penataan kalimat (37,9%), pemilihan kata (28,3%), penataan paragraf (10,3%), dan
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.5
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
penataan kalimat (6%). Secara keseluruhan kelemahan utama terletak pada penataan
kalimat dan paragraf.
Kesalahan-kesalahan atau ketidakbakuan kalimat yang oleh mahasiswa dianggap
baku, tentu kalimat-kalimat yang lazim dibaca atau didengarnya. Oleh karenanya mereka
menganggap kalimat-kalimat tersebutlah yang baku. Memang tidak tertutup pula
kemungkinan bahwa pengetahuan mahasiswa untuk menganalisis dan membedakan
kalimat baku dan tidak baku masih lemah.
Ini terbukti karena kalimat-kalimat nonbaku yang disajikan pada tes merupakan
bentuk-bentuk kalimat yang sering digunakan oleh masyarakat umum atau masyarakat
pemakai bahasa pada media massa. Kalimat-kalimat nonbaku yang dianggap mahasiswa
sebagai kalimat baku tersebut juga merupakan kalimat yang sering digunakan oleh
masyarakat umum. Tanpa disadari oleh pemakainya, kalimat-kalimat tersebut adalah
kalimat nonbaku yang terpengaruh oleh struktur bahasa lain, ataupun ragam pemakaian
kelompok masyarakat tertentu.
Bahasa Lisan yang Dituliskan
Dalam susasana informal ketika mahasiswa bercakap-cakap dengan teman sebaya,
mereka begitu lepas tidak terikat dengan kebakuan. Bahkan mereka sangat kreatif
menciptakan kata-kata baru yang disepakati secara tidak tertulis dan hanya dipahami oleh
mereka.. Perhatikan cuplikan percakapan berikut dengan latar kampus;
R: Nola minggu lalu, kan elu gue suruh ke perpus cari data buat tugas kita,
Gimana, udah dapet belon?
B: Beres, Bo! Pokoknya sip, dah! Tapi, buat tugas yang kedua, gue belon dapet.
L: Ya, elu...., itu pan, penting buat gua
N: Ya...abis gimane. Soalnya lagi ayik-asyiknya nih, eh si Jabrik nongol. Elu, pan,
tau, gue sebel banget ame die. Bete, deh, gue!
L: Gue ngerti. Emang sih, die tuh tampangnya aje jutek and garang. Boro-boro
ngobrol ame die, ngeliatnya aje gue udeh segen. Lagaknya sepak!
N: Nah, tuh, die mangkenye gue rada panas kalau ada die. Kagak ada
juntrungannya, bawaann gue beteee, aje. Begitu ngeliat, kontan aje gue cabut
pulang.
R: Buju buneng, tuh orang pan, otaknye selalu ngeres, kedoyanannya Cuma bokep.
Ya, udeh, sekarang gimane, nih, tugas kite. Soalnya, gue, lagi keranjingan buat
tugas, nih.
N: Gue, nanti ke sono lagi, deh. Gue udeh janjian ama Rina mau bareng ke sono
besok.
(Candrayani dan Sri Hapsari, 2004)
Dalam percakapan di atas, banyak unsur kegramatikalan yang ditanggalkan, seperti
pelesapan subjek, peringkasan kata, pemenggalan huruf, atau peralihan kode bahasa.
Namun, semua itu berlangsung lancar-lancar saja, tidak ada hambatan yang disebabkan
salah satu partisipan tidak memahami makna atau maksud ujaran mitra tutur. Dalam hal
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.6
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
ini Moeliono (1980) mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah karena tiras atau
inti bersama yang mereka gunakan masih sama, yaitu Bahasa Indonesia.
Bahasa Tulis Ragam Ilmiah Mahasiswa
Berikut beberapa contoh kalimat yang ditulis apa adanya dari makalah mahasiswa.
Simaklah kata yang diberi huruf tebal sekaligus huruf miring .
1. Dalam hal ini kami berikan masukan,al:
Sebaiknya PT. XYZ menggunakan sistim FRANCO dalam menjual hasil produksi
dimana PT. XYZ turut mengatur mengenai pengangkutan barang yang dijual.
Untuk jangka pendek sebaiknya digunakan sistim armada angkutan gabungan
dimana perusahaan mengkoordinir truk-truk dari beberapa perusahaan angkutan
yang dipandang cukup bonafid.
2. Pada ”PT Panasonic” bergerak di bidang elektronika di dalam perusahaan tersebut
pasti memperhitungkan laba yang didapat, karena semakin banyaknya persaingan
antar perusahaan yang pada sekarang ini. Jadi didalam untuk memperhitungkan
laba yang didapat dengan melakukan cara yaitu melakukan peningkatan harga jual
produk atau menekan biaya untuk produksi.
3. Perusahaan akan mengalami kesulitan dalam penelitian kekayaan secara fisik apabila
keempat unsur di atas tidak di lakukan secara propesional karena didalam
pelaksanaan atau membuat laporan-laporan yang di peroleh seorang manager
perusahaan tidaklah secara bersamaan melainkan laporan actual yang sebenarnya,
maksud daripada laporan ini adalah apabila seorang manager minta data
persediaan barang dan cost persediaan tersebut, apabila catatan akuntansi tidak sama
dengan departemen gudang (persediaan) maka manager akan tidak percaya akan
laporan yang dibuat. Untuk itu perusahaan lebih baik memberikan otoritas pada setiap
departemen agar laporan yang akan disampaikan lebih tercontrol.
4. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
Penulis dapat pengalaman dan menambah wawasan sekaligus penulis berkesempatan
membedakan antara ilmu yang diperoleh dengan kenyataan.
Contoh-contoh di atas tentunya tidak kita harapkan muncul dalam tulisan mahasiswa.
Karena itu, kita perlu membimbing bagaimana mahasiswa menulis dengan benar dari
segala aspek kebahasaan. Mereka perlu diberi tubian menulis karya ilmiah, laporan
penelitian, dan sebagainya oleh pengajar. Hal demikian perlu diajarkan oleh pengajar
agar kelak bila mereka terjun ke dunia kerja, yaitu saat mereka dituntut harus berbicara di
muka umum (bernegosiasi dengan klien, misalnya), menulis makalah untuk
dipresentasikan dengan klien, berdebat ilmiah, atau menulis surat dinas/resmi,mereka
tidak lagi menunjukkan keteledoran, kekurangcermatannya dalam berbicara atau menulis
dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Menurut pengamatan peneliti salah satu pemicu ketidaktaatan mahasiswa dalam
menulis berhubungan dengan lingkungan bahasa. Seperti kita ketahui pola bahasa
pergaulan anak muda di Jakarta mempunyai pola bahasa yang khas. Pola-pola ini muncul
akibat pengaruh dari bahasa penutur ataupun pengaruh bahasa asing yang dipelajari di
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.7
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
kampus atau tempat kursus. Munculnya pola-pola ini menyebabkan bahasa mereka
tampak tidak konsisten dalam pemakaiannya. Mereka mencampuradukkan bahasa baku,
nonbaku, dan bahasa pergaulan mereka.
Dalam hal ini yang paling mencolok tampak dalam penulisan mereka ialah kosa
kata dan struktur kalimat. Bukan saja mereka menggunakan kata-kata asing yang telah
diindonesiakan, melainkan juga mengabaikan tanda baca. Lebih dari itu, tulisan mereka
juga mencerminkan ketidakcermatannya dalam mengetik dan tidak menata gagasan
secara apik. Kesan sembrono seperti ini dapat disebabkan oleh ketidaktahuannya,
ketidakpeduliannya terhadap pemakaian bahasa baku, kurangnya minat terhadap bahasa
Indonesia, atau kesombongannya.
Menulis Akademik (academic writing)
Menulis akademik (academic writing) bukan pekerjaan yang sulit, tetapi juga tidak
mudah. Seperti kiat yang ditawarkan oleh David Nunan (1991 : 86) tentang konsep
pengembangan keterampilan menulis yang meliputi : (1) perbedaan antara bahasa lisan
dan bahasa tulis, (2) menulis sebagai proses dan menulis sebagai produk, (3) struktur
generik wacana tulis, dan (4) penerapan keterampilan menulis dalam pembelajaran.
Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis tampak pada fungsi dan karakteritik
yang dimiliki oleh keduanya. Namun, yang patut diperhatikan adalah kedua bahasa itu
harus memiliki fungsi komunikasi. Dari sudut pandang inilah dapat diketahui bagaimana
hubungan antara bahasa lisan dan bahasa tulis sehingga dapat diaplikasikan dalam
pembelajaran dan pelatihan keterampilan tulis menulis.
Menurut Soewardjono (2005 : 3), menulis adalah kegiatan menyusun serta
merangkaikan kalimat sedemikian rupa agar pesan, informasi, serta maksud yang
terkandung dalam pikiran, gagasan dan pendapat penulis dapat disampaikan dengan baik.
Untuk itu, setiap kalimat harus disusun sesuai dengan kaidah-kaidah gramatika, sehingga
mampu mendukung pengertian baik dalam taraf significance maupun dalam taraf value.
Kalimat-kalimat yang demikian itu diwujudkan di atas kertas dengan menggunakan
media visual menurut grafologi tertentu. Penguasaan terhadap sistem grafologi ini, yakni
sistem yang digunakan dalam suatu bahasa merupakan kemampuan prasarana yang harus
dikuasai oleh penulis.
Keefektifan usaha di atas dipengaruhi oleh sikap dan tanggapan kita terhadap
bahasa Indonesia. Komunikasi ilmiah dalam bahasa Indonesia belum sepenuhnya
mencapai titik kesepakatan yang tinggi dalam hal kesamaan pemahaman terhadap kaidah
bahasa termasuk kosa kata. Beberapa kenyataan atau faktor menjelaskan hal ini. Pertama,
kebanyakan orang dalam dunia akademik belajar berbahasa Indonesia secara alamiah.
Artinya orang belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apakah
bentuk bahasa tersebut secara kaidah benar atau tidak Lebih dari itu, akademisi
kadangkala lebih menekankan selera bahasa daripada penalaran bahasa. Akibatnya,
masalah kebahasaan Indonesia dianggap hal yang sepele (trivial) dan dalam menghadapi
masalah bahasa orang lebih banyak menggunakan argumen ”yang penting tahu
maksudnya.”
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.8
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Kedua, bahasa Indonesia harus bersaing dengan bahasa asing (Inggris). Kenyataan
ini tidak hanya terjadi pada tingkat penggunaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat
umum tetapi juga dalam kehidupan akademik. Cendekiawan dan orang yang berpengaruh
biasanya mempunyai kosakata asing yang lebih luas daripada kosa kata bahasa
Indonesianya sehingga mereka merasa lebih asing dengan bahasa Indonesia. Media
massa juga memperparah masalah terutama televisi apakah bahasa Indonesia ataukah
penyelenggara acara yang miskin kosa kata? Kalau tidak, apakah menggunakan bahasa
Indonesia kurang bergengsi?
Ketiga, kalangan akademik sering telah merasa mampu berbahasa Indoneia
sehingga tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia atau membuka kamus bahasa
Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya orang sering merasa
lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing.
Anehnya, kalau orang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya,
mereka dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan
mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu
aneh. Akan tetapi, kalau mereka mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi
dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan ”Apa
artinya ini, kok aneh-aneh?” dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka
kamus dan menggunakannya secara tepat. Seseorang yang bersikap demikian lupa bahwa
kemampuan menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual
memerlukan kemampuan berbahasa dan penguasaan kosakata pada tingkat yang
memadai.


Jenis Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Mahasiswa
Jenis kemahiran berbahasa Indonesia :
Tabel 1 :
Situasi dan Kegiatan yang menggunakan BI
Kegiatan dalam BI
Kegiatan Ketrampilan ber-BI
1. Kuliah/ceramah 1. menyimak dan memahami
2. mencatat hasil menyimak
3. mengajukan pertanyaan untuk ;
pengulangan, klarifikasi, dan informasi
2. Seminar/tutorial/diskusi/supervisi 1. menyimak dan mencatat
2. bertanya-seperti di atas
3. menjawab pertanyaan-menjelaskan
4. menyetujui dan menyanggah,
mengemukakan sudut pandang, memberi
alasan menyela
5. berbicara dengan (tanpa catatan;
menyajikan makalah, mengambil inisiatif
berkomentar menanggapi,membeberkan
data dengan kata
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.9
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
3. praktikum/kerja lab/kerja
lapangan
1. memahami instruksi, baik tertulis maupun
lisan, formal maupun informal, bertanya,
meminta bantuan
2. mencatat hasil
4. belajar sendiri/membaca (jurnal
& buku)
1. membaca secara efisien; pemahaman dan
kecepatan
2. scanning dan skimming; mengevaluasi
3. memahami dan menganalisis data (grafik,
diagaram, etc.)
4. mencatat, mengatur catatan menurut
urutan kepentingan
5. menyingkat dan membuat parafrase
5.ketrampilan referensi/ketrampilan
dalam pemanfaatan perpustakaan
Ketrampilan penelitian dan referensi;
1. menggunakan daftar isi, indeks
2. menggunakan kamus secara efisien
3. memahami sistem klasifikasi
4. menggunakan katalog perpustakaan
(subject/author) dalam kartu atau sistem
elektronik, microface, dan komputer
5. menemukan informasi secara cepat (bukubuku
acuan dan bibliografi)
6. merangkum informasi
6.esei/laporan/proyek/studi/kasus/di
sertasi/tesis/makalah
penelitian/artikel
1. perencanaan, penulisan buram, merevisi
2. merangkum, membuat parafrase, dan
mensintesis
3. menulis secara kontinyu dalam gaya
akademik dan diatur secara tepat
4. menggunakan kutipan, catatan kaki,
bibliografi
5. menemukan dan menganalisis bukti;
menggunakan data secara tepat
7. penelitian (terkait dengan 3-6 di
atas)
1. mewawancarai
2. merancang angket
3. melakukan survei
8.ujian:
• tertulis
• lisan
1. menyiapkan diri untuk ujian (teknik)
2. revisi
3. memahami pertanyaan/perintah
4. menulis cepat, sempitnya waktu
5. menjawab pertanyaan/secara eksplisit, tepat
6. menjelaskan, memerikan, memberikan
justifikasi
Sumber ; Jordan, 1997
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.10
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Jika semua komponen bahasa diterapkan pada penggunaan bahasa Indonesia sesuai
dengan tujuan dalam penulisan ilmiah masing-masing bidang studi, yang pada lazimnya
dalam situasi formal, maka dengan sendirinya ragam bahasa yang digunakan adalah
ragam bahasa formal, yang pemilihan kata/ungkapannya harus tepat dan susunan tata
bahasanya harus akurat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Gambaran ini menunjukkan lemahnya kompentensi bahasa mahasiswa, khususnya
kemampuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk nonbaku dari suatu tuturan atau
tulisan. Oleh karena itulah mahasiswa cenderung memilih kalimat tersebut sebagai
kalimat baku karena memang bentuk-bentuk tersebut sering didengar atau dibacanya. Ini
menunjukkan pula bahwa lingkunganlah yang menjadi acuan berbahasa mahasiswa.
Konsekuensi dari hal ini adalah, masyarakat penutur bahasa Indonesia tidak taat asas. Ini
sekaligus menunjukkan bukti bahwa masyarakat lebih cenderung mengutamakan
tersampainya pesan komunikasi dan mengesampingkan struktur bahasa .
Walaupun kasus kompetensi BII hanya pada lingkungan mahasiswa Universitas
Gunadarma, namun hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran kualitas BII
mahasiswa pada umumnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas penguasaan bahasa Indonesia baku
(BII) pada mahasiswa Gunadarma adalah kemampuan menuangkan gagasan
dalam konteks wacana dan lingkungan bahasa. Mahasiswa masih terpengaruh
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.11
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
oleh penggunaan kalimat-kalimat nonbaku. Dengan demikin, pengaruh negatif
pemakaian bahasa masih dominan mempengaruhi kompetensi bahasa mahasiswa.
2. Mahasiswa masih susah mengidentifikasi ketidakbakuan sebuah kalimat sehingga
menganggap kalimat nonbaku sebagai kalimat yang baku.
3. Mahasiswa masih terpengaruh oleh bentuk-bentuk nonbaku yang dipengaruhi
oleh bahasa Inggris, bahasa daerah, dan bentuk-bentuk ragam pemakaian bahasa
nonbaku lainnya.
 DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 1993. Tata Bahasa Baku Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Badudu, J.S. 1986. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: Gramedia.
Bloomfield, Leonard. 1973. Language. New York: Holt, Reinhart-Hall of India Private
Limited.
Brown, H.D. 1980. Principles of Language Learning and Teaching. Englewood Cliffs:
Prantice-Hall Inc.
Candrayani, Amalia dan Wijayanti, Sri Hapsari, 2004. Bahasa Pergaulan Jakarta.
Jakarta: Rumah.
Chaer, Abdul dan Agustina, Leoni. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud. 1991. Pedoman dan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta:
Balai Pustaka.
Ditmar, N. 1976. Sociolinguistics: A Critical Survey of Theory and Aplication. London:
Edward Arnold Ltd.
Education Commission of The States Initiative. 2000. Service-Learning and Preservice
Teacher Education. Learning in Indeed Issue Paper.www.ecs.org.
Graves, Donald. 2001. Emergent Reading and Writing Connection. School Improvement
in Maryland. (online). (http://www.mdk12.org/practices/ good_
instruction/projectbetter/elangarts/ela-97-99.html
Hamid, Fuad Abdul. 1987. Prosedur Belajar-Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud,
Dikti PPLPTK.
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.12
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
Hanley, S. On Constructivism. Maryland: Maryland Collaborative for Teacher
Preparation
Jordan, R.R. (1997). English for Academic Purposes : A Guide and Resources Book for
Teachers. Cambridge : CUP
Halim, Amran. 1976. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Hymes, Dell. 1976. Language in Culture and Society. New York: Harper and Row
Publishers.
Kridalaksana, Harimurti. 1985. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Ende Flores: Nusa
Indah.
Kern, N. 2000. Criteria for Authentic Project-Based Learning. Denver: RMC Reseach
Corporation.
Moeliono, Anton M. (ed). 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum
Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nazar, Noerzisri A. 1993. Pengaruh Lingkungan Bahasa Terhadap Pemakaian Bahasa
Indonesia Baku Pada Mahasiswa. Jakarta: MLI Jakarta
Muhadjir, 1984. Morfologi Dialek Jakarta : Afiksasi dan Reduplikasi. Jakarta;
Djambatan.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1997. ”Ihwal Bahasa Tak Baku : Bahasa yang baik dan tidak
Benar?” Atma nan jaya. Th.X. No. 3
Salinger, Terry. 2001. Literate Environment. School Improvement in Maryland. (online).
(http://www.mdk12.org/practices/good_instruction/projectbetter/elangarts/ela-62-
63.html)
Sri Hapsari. 2005. ”Bahasa Pergaulan Anak Muda Jakarta; Kajian terhadap Bahasa Baku
dan NonBaku”. Kajian Linguistik dan Sastra. Vol. 7. No. 32.:UMS
Soewardjono. 2005. ”Menulis Akademik. Makalah disajikan pada Refreshing Fakultas
Ekonomi”. Jakarta: Gunadarma.
Ketrampilan Literasi dalam Konteks Wacana Bahasa Indonesia hal.13
dalam Ranah Menulis Akademik
Oleh Tri Wahyu R. N Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta
t_wahyu@staff.gunadarma.ac.id
source :  http://pemudaniasutara.blogspot.com/2012/03/ketrampilan-literasi-dalam-konteks.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar